Tuesday, June 24, 2014

At Tauhid: Riya Penghapus Amal





            Syarat paling utama suatu amalan di sisi ALLAH adalah ikhlas. Tanpanya, amalan seseorang akan sia-sia belaka. Syaitan tidak henti-hentinya memalingkan manusia, menjauhkan mereka dari keikhlasan. Salah satunya adalah melalui pintu riya’ yang banyak tidak disadari setiap hamba.
            Yang dimaksud riya’ adalah melakukan suatu amalan agar orang lain bisa melihatnya kemudian memuji dirinya. Termasuk ke dalam riya’ yaitu sum’ah, yakni melakukan suatu amalan agar orang lain mendengar apa yang dia lakukan, sehingga pujian dan ketenaran pun datang kepadanya. Riya’ dan semua derivatnya merupakan perbuatan dosa dan merupakan sifat orang-orang munafik.
Hukum Riya’
            Riya ada dua jenis. Jenis yang pertama hukumnya syirik akbar. Hal ini terjadi jika seseorang melakukan seluruh amalnya agar dilihat manusia dan tidak sedikit pun mengharapkan wajah ALLAH. Dia bermaksud bisa bebas hidup bersama kaum muslimin, menjaga darah dan hartanya. Inilah riya yang dimiliki oleh orang-orang munafik. ALLAH berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu ALLAH dan ALLAH akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya dengan sholat dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut ALLAH kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisaa; 142)
            Adapun yang kedua adalah riya yang terkadang menimpa orang yang beriman. Sikap riya ini terkadang muncul dalam sebagian amal. Seseorang beramal karena ALLAH dan juga diniatkan untuk selain ALLAH. Riya jenis ini merupakan perbuatan syirik asghar. (I’aanatul mustafiid bi syarhi kitaabi at tauhid, II/84)
            Jadi, hukum asal riya adalah syirik asghar (syirik kecil). Namun, riya bisa berubah hukumnya menjadi syirik akbar (syirik besar) dalam tiga keadaan berikut:
1.      Jika seseorang riya kepada manusia dalam pokok keimanan. Misalnya seseorang yang mempakkan dirinya di hadapan manusia bahwa dia seorang muslim demi menjaga harta dan darahnya.
2.      Jika riya’ dan sum’ah mendominasi dalam seluruh jenis amalan seseorang.
3.      Jika seseorang dalam amalannya lebih dominan menginginkan tujuan dunia dan tidak mengharapkan wajah ALLAH. (Al mufid fii muhimmaati at tauhid, 183)
Ibadah Yang Tercampur Riya
            Bagaimanakah status suatu amalan ibadah yang tercampur riya? Hukum masalah ini dapat dirinci pada beberapa keadaan. Jika seseorang beribadah dengan maksud pamer di hadapan manusia, maka ibadah tersebut batal dan tidak sah. Adapun riya atau sum’ah muncul ditengah-tengah ibadah maka ada dua keadaan. Jika amalan ibadah tersebut berhubungan anatara awal dan akhirnya, misalnya ibadah sholat, maka riya akan membatalkan ibadah tersebut jika tidak berusaha dihilangkan dan tetap ada dalam ibadah tersebut. jenis yang kedua adalah amalan yang tidak berhubungan antara bagian awal dan akhir, shodaqoh misalnya. Apabila seseorang bershodaqoh seratus ribu, lima puluh ribu dari dia shodaqohkan tercampuri riya, maka shodaqoh yang tercampuri riya tersebut batal, sedangkan yang lain tidak. (lihat Al mufid 183).
Jika Demikian Keadaan Para Sahabat, Bagaimana Dengan Kita?
            Penyakit riya dapat terjangkiti siapa saja, bahkan orang alim sekali pun. Termsuk juga para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam. Para sahabat adalah generasi terbaik umat ini. Keteguhan iman mereka sudah teruji, pengorbanan mereka terhadap islam sudah tidak perlu diragukan lagi. Namun demikian, Nabi shallallahu alaihi wasallam masih mengkawatirkan menimpa kalian adalah perbuatan syirik asghar. Ketika beliau ditanya tentang maksudnya beliau menjawab: contohnya adalah riya.”(Diriwayatkan oleh Ahmad)
            Dalam hadis diatas terdapat pelajaran tentang takut kepada syirik. Nabi shallallahu alaihi wasallam khawatir kesyirikan menimpa sahabat muhajirin dan anshor, sementara mereka adalah sebaik-baik umat. Maka bagaimana terhadap umat selain mereka? Jika yang beliau khawatir menimpa mereka adalah syirik asghar yang tidak mengeluarkan dari islam, bagaimana lagi dengan syirik akbar? Wal iyadzu billah (I’aanatul mustafid, I/90)
Lebih Bahaya Dari Fitnah Dajjal
            Rasulullah shallallahu alaihhi wasallam bersabda, “Maukah kamu kuberitahu tentang sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada fitnah al masih ad dajjal? Para sahabat berkata, “Tentu saja” beliau berkata lagi, Syirik khafi (yang tersembuyi), yaitu ketika seseorang berdiri mengerjakan sholat, dia perbagus sholatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya.”(HR. Ahmad)
            Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa riya termasuk syirik khafi yang samar dan tersembunyi. Hal ini karena riya terkain dengan niat dan termasuk amalan hati, yang hanya diketahui oleh ALLAH. Tidak aseseorang pun yang mengetahui niat dan maksud seseorang kecuali ALLAH semata. Hadis di atas menunjukkan tentang bahaya riya menimpa para sahabat yang merupakan umat terbaik, apalagi terhadap selainmereka. Kekahawatiran beliau lebih besar dari kekhawatiran terhadap ancaman fitnah dajjal karena hanya sedikit yang dapat selamat dari bahaya riya ini. Fitnah dajjal yang begitu bahaya, hanya menimpa pada orang yang hidup pada zaman tertentu, sedangkan bahaya riya menimpa seluruh manusia di setiap zaman dan setiap saat. (I’aanatul mustafiid II/90)

Berlindung Dari Bahaya Riya
            Berhubung masalah ini sangat berbahaya seperti yang telah dijelaskan diatas, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasalam telah mengajarkan kepada kita sebuah doa untuk melindungi diri kita dari syirik besar maupun kecil. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingatkan kita melalui sabdanya, “Wahai sekalian manusia, jauhilah dosa syirik, karena syirik itu lebih samar dari rayapan seekor semut” lalu ada orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kami dapat menjauhi dosa syirik, sementara ia lebih samar daripada rayapan seekor semut? Rasulullah berkata, “Ucapkanlah Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika wa anan a’lam wa astaghfiruka lima laa a’lam (Ya ALLAH, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui)” (HR. Ahmad)
Tidak Tergolong Riya
            Al Imam an Nawawi membuat suatu bab dalam kitab Riyadus Shalihin dengan judul, “Perkara yang dianggap manusia sebagai riya namun bukan termasuk riya”. Beliau membawakan hadis dari Abu Dzar. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya, “Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudia dia mendapat pujian dari manusia? Beliau menjawab, “Itu adalah kebaikan yang disegerakan bagi seorang mukmin.”(HR. Muslim)
            Diantara amalan-amalan yang tidak termasuk riya adalah:
1.      Rajin beribadah ketika bersama orang shalih. Hal ini terkadang menimpa ketika seseorang berkumpul dengan orang-orang shaleh sehingga lebih semangat dalam beribadah. Hal ini tidak termasuk riya. Ibnu Qudamah mengatakan, “Terkadang seseorang menginap di rumah orang yang suka bertahajud, lalu ia pun ikut melaksanakan tahajud lebih lama. Padahal biasanya ia hanya melakukan shalat malam sebentar saja. Pada saat itu, ia menyesuaikan dirinya dengan mereka. Ia pun ikut berpuasa ketika mereka berpuasa. Jika bukan karena bersama orang yang ahli ibadah tadi, tentu ia tidak rajin beribadah seperti ini”
2.      Menyembunyikan dosa. Kewajiban bagi setiap muslim apabila berbuat dosa adalah menyembunyikan dan tidak menampakkan dosa tersebut. nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang menampakkan perbuatan dosanya. Diantara bentuk menampakkan dosa adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya –padahal telah ALLAH tutupi, ia sendiri bercerita, “Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu”. Padahal semalam ALLAH telah tutupi maksiat yang ia telah lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri yang membuka aib-aibnya yang telah ALLAH tutup.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3.      Memakai pakaian yang bagus. Hal ini tidak termasuk riya karena termasuk keindahan yang disukai oleh ALLAH. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong walau sebesar dzarah.” Lantas ada seseorang yang berkata,”Sesungguhnya ada orang yang suka berpenampilan bagus ketika berpakaian atau ketika menggunakan alas kaki.” Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Seseungguhnya ALLAH itu Maha indah dan menyukai keindahan. Yang dimaksudkan sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)
4.      Menampakkan syiar islam. Sebagian syariat islam tidak mungkin dilakukan secara sembunyi-sembunyi, seperti haji, umroh, shalat berjama’ah dan shalat jum’at. Seorang hamba tidak berarti riya ketika menampakkan ibadah tersebut, karena diantara kewajiban yang ada harus ditampakkan dan diketahui manusia yang lain. Karena hal tersebut merupakan bentuk penampakkan syiar-syiar islam. (Bahjatun Nadzirin syarh riyadhis shalihin, III/140-142)
Ikhlas Memang Berat
            Pembaca yang budiman, ikhlas adalah suatu amalan yang sangat berat. Fitnah dunia membuat hati ini susah untuk ikhlas. Cobalah kita renungkan setiap amalan kita, sudahkah terbebas dari maksud duniawi? Sudahkah semua murni ikhlas karena ALLAH Ta’ala? Jangan sampai ibadah yang kita lakukan siang dan malam menjadi sia-sia tanpa pahala. Sungguh, ikhlas memang berat. Urusan niat dalam hati bukanlah hal yang mudah. Tidaklah salah jika Sufyan ats Tsausi mengatakan, “Tidakkah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik.” (Jaami’ul ulum wal hikam, 34). Hanya kepada ALLAH jika kita memohon taufik. Wallahu a’lam At Tauhid: Riya Penghapus Amal

No comments:

Post a Comment