Friday, June 21, 2013

At-Tauhid: Meraih Khusyu Dalam Ibadah



Meraih Khusyu Dalam Ibadah

            Khusy’ dalam ibadah kedudukannya seperti ruh/jiwa dalam tubuh manusia [lihat “Bada-I’ul fawa-id”(3/518), “Faidhul Qadiir”(3/88)], sehinggaa ibadah yang dilakukan tanpa khusyu’ adalah ibarat tubuh tanpa ruh alias mati.
            ALLAH Ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka selalu berdoa kepada Kami dengan berharap dan takut. Dan mereka adlah orang-orang yang khusyu’ dalam beribaddah”. (QS. Al-Anbiyaa’: 90).
            Bahkan ALLAH Ta’ala menjadikan sifat agung ini termasuk cirri utama orang-orang yang sempurna imannya dan sebab keberuntungan mereka, dalam firman-NYA (yang artinya): “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya”. (QS. Al-Mu’minuun:1-2).
            Oleh karena itu, Rasulullah memohon kepada ALLAH Ta’ala sifat mulia ini dalam doa beliau Shallallahu’alaihi wasalla: “Ya ALLAH, hidupkanla aku sebagai orang miskin, matikanlah aku sebagai orang miskin, kumpulkanlah aku didalam golongan orang-orang miskin pada hari kiamat”. [HR. At-Tirmidzi (4/577), dinyatakan shahiholeh syaikh al-Albani].
            Arti “orang moskin” dalam hadis ini adlah orang yang selalu merendahkan diri, tunduk dan khusyu’ kepada ALLAH Ta’ala. [lihat “al-Khusyu’fish shalaah”(hal.34)].
Arti Khusyu’ dan Hakikatnya

            Secara bahasa khusyu’ berarti as-sukuun (diam/tenang) dan at-tadzallul (merendahkan diri). Sifat mulia ini bersumber dari dalam hati yang kemudian pengaruhnya terpancar pada anggota badan. Imam Ibnu Rajab berkata: “Asal (sifat) khusyu’ adlah kelembutan, ketenangan, ketundukan, dan kerendahan diri dalam hati manusia kepada ALLAH Ta’ala. Tatkala hati manusia telah khusyu’ maka semua anggota badan akan ikut khusyu’, karena anggota badan selalu mengikuti hati”. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia…”.
            Maka jika hati seseorang khusyu’ pendengaran, penglihatan, kepala, wajah dan semua anggota badannya ikut khusyu’ bahkan semua yang berrsumber dari anggota badannya”. [lihat “al-Khusyu’ fishshalaah” (hal.11-12).
            Imam Ibnul Qayyim berkata: “Para ulama sepakat mengatakan bahwa khusyu’ tempatnya dalam hati dan buahnya tanda terlihat pada anggota badan”.[lihat “Mada-rijussaalikiin”(1/521)].

Khusyu’ Adalah Buah Manis Dari Ilmu Yang Bermanfaat

            Dalam sebuah hadis yang shahih, Rasulullah pernah berdoa: “Ya ALLAH< sesungguhnya aku berlindung kepada-MU dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan”. (HR. Muslim).
            Dalam hadis yang agung ini, Rasulullah menggandengkan empat perkara yang tercela ini, sebagi isyarat bahwa ilmu yang tidak bermanfaat memiliki tanda-tanda buruk, yaitu hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak perrnah puas, dan doa yang tidak dikabulkan [lihat “Tuhfatul ahwadzi” (9/319).
            Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: “Hadis ini menunjukan bahwa ilmu yang tidak menimbulkan sifat khusyu’ dalam hati maka ini adalah ilmu yang tidak bermanfaat”. [lihat “Majmuu’u rasa-ilil haafizh Ibni Rajab Al Hambali (1/17)].
            Inilah keutamaan khusyu’ yang merupakan buah utama ilmu yang bermanfaat, sekaligus merupakan ilmu yang pertama kali diangkat oleh ALLAH Ta’ala dari muka bumi ini [lihat “al-Khusyu’u fish shalaah”(hal.15)], sebagaimana dalam hadis riwayat Abu Darda bahwa Rasulullah bersabda: “Yang pertama kali diangkat oleh ALLAH dari umat ini adlah sifat khusu’ sehingga nantinya kamu tidak akan melihat lagi seorang yang khusyu’ dalam ibadahnya”. (HR. ath-Thabarani, dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani].

Khusyu’ Dalam Shalat

            Sifat khusyu’dituntut dalam semua bentuk ibadah dan ketaatan kepada ALLAH Ta’ala, akan tetapi dalam ibadah shalat, sifat yang agungini lebih terlihat wujud dan pengaruh positifnya.
            Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: “Sungguh ALLAH telah mensyariatkan bagi hamba-hamba-NYA berbagai macam ibadah yang akan tampak padanya kekhusyu’an anggota badan seorang hamba yang bersumber dari kekhusyu’an hati, ketundukan dan kerendahan diri dalam hatinya. Dan termasuk ibadah yang paling tampak padanya kekhusyu’an adlah ibadah shalat. ALLAH Ta’ala memuji hamba-hamba-NYA yang khusyu’ dalam shalat mereka dalam firman-NYA yang artinya:”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnyya”. (QS Al-Mu’minuun: 1-2) dan [lihat “alkhusyu’ fish shalaah (hal.22)].
            Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin berkata: “Para ulama menafsirkan arti khusyu’ dalam shalat yaitu diamnya anggota badan yang disertai dengan ketenangan dalam hati”. [lihat “Fathu Dziljalaali walikraam”(1/571)]. Cirri inilah yang ada pada orang-orang yang sempurna keimanannya, para shabat , sebagaimana dalam firman ALLAH yang artinya: “Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud”. (QS Al-Fath: 29). Imam Mujahid dan beberapa ulama ahli tafsir lainnya berkata tentang makna ayat ini: “Yaitu khusyu’ dalam shalat dan tawadhu’ (sikap merendahkan diri)”. [lihat Tafsir Ibnu Katsir (4/260)].
            Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda kepada Bilal Radhiallahu’anhu:”Wahai Bilal, senangkanlah hati kami dengan melaksanakan shalat”. (HR Abu Daud dan Ahmad, dinyatakan shahih oleh syaikh Al-Albani).
Cara Untuk Meraih Khusyu’
            Dikarenakan sifat khusyu’ sumbernya dari dalam hati manusia, maka sifat ini hanya bias diraih dengan taufik dan anugerah dari ALLAH Ta’ala. Oleh karena itu, cara utama untuk meraih sifat mulia inni dan sifat-sifat agung lainnya dalam agama adalah dengan banyak berdoa dan memohon kepada ALLAH Ta’ala.
            Oleh karena itu, imam Mutharrif bin Abdillah bin asy-Syikhkhiir berkata: “Aku mengingat-ingat apakah penghimpun segala kebaikan, karena kebaikan itu banyak; puasa, shalat dan lain-lain. Semua kebaikan itu ada di tangan ALLAH Ta’ala, maka jika kamu tidak mampu memiliki apa yang ada di tangan ALLAH Ta’ala kecuali dengan memohon kepada-NYA agar Dia memberikan semua itu kepadamu, maka berarti penghimpun (semua) kebaikan adalah berdoa (kepada ALLAH Ta’ala)”. [(Diriwayatkan oleh imam Ahamd dalam kitab “Az-Zuhd”)].
            Kemudian sifat khusyu’ akan diraih insyaAllah dengan seorang hamba yang mengenal ALLAH Ta’ala dengan cara yang benar, melalui pemahaman terhadap nama-nama-NYA yang maha indah dan sifat-sifat-NYA yang maha sempurna. Inilah ilmu yang paling mulia dalam islam dan merupakan jalan utama untuk meraih semua sifat dan kedudukan yang mulia di sisi ALLAH Ta’ala.
            Imam Ibnul Qayyim berkata: “Orang yang paling sempurna ddalam penghambaan diri kepada ALLAH Ta’ala adalah orang yang menghambakan diri kepada-NYA dengan memahami kandungan semua nama dan sifat-NYA yang bias diketahui oleh manusia”. [Kitab “Madaarijus saalikiin” (1/420)].
            Ada hamba yang meraih khusyu’ kepada-NYA karena penyaksiannya yang kuat terhadap kemahadekatan dan penglihatan-NYA yang sempurna terhadap apa yang terseembunyi dalam hati hamba-NYA, sehingga ini menimbulkan rasa malu kepada ALLAH Ta’ala dan selalu merasakan pengawasan-NYA dalam semua gerakan dan diamnya hamba tersebut.
            Ada juga yang meraih khusyu’ karena penyaksiannya terhadap kemahasempurnaan dan kemahaindahan-NYA, sehingga ini menjadi tenggelam dalam kecintaan kepada-NYA serta kerinduan untuk bertemu dan memandang wajah-NYA.
            Demikian pula ada yang meraih khusyu’ karena penyaksiannya terhadap kerasnya siksaan, pembalasan dan hukum-NYA, sehingga ini menbangkitkan rasa takutnya kepada ALLAH. Hal ini merupakan makna firman ALLAH Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya yang takut kepada ALLAH diantara hamba-hambaNYA, hanyalah orang-orang yang berilmu mengenai ALLAH Ta’ala)”. (QS Faathir: 28).
            Imam Ibnu Katsir berkata;”Arti ayat ini; Hanyalah orang-orang yang berilmu dan mengenal ALLAH yang memiliki rasa takut yang sebenarnya kepada ALLAH, karena semakin sempurna pemahaman dan pengetahuan seorang hamba terhadap ALLAH, maka ketakutan hamba tersebut kepada-NYA semakin besar pula”. [(Tafsir Ibnu Katsir (3/729)]At-Tauhid: Meraih Khusyu Dalam Ibadah

No comments:

Post a Comment