Friday, June 28, 2013

At-Tauhid: Dan Jika Aku Sakit, Dia Yang Menyembuhkan



Dan Jika Aku Sakit, Dia Yang Menyembuhkan

            Sesuatu yang tidak akan dipungkiri siapa pun adalah kehidupan ini tidak hanya dalam satu keadaan. Ada senang, ada duka. Ada canda, begitu juga tawa. Ada sehat, namun juga adakalanya sakit. Dan semua ini adlah sunnatullah yang mesti dihadapi siapa pun.

            Diantara hal yang paling menarik dalam hal ini adalah di mana seorang manusia menghadapi ujian berupa sakit. Tentu keadaan sakit ini lebih sedikit dan sebentar disbanding keadaan sehat. Yang perlu diketahui oleh setiap muslim adalah tidaklah ALLAH menetapkan suatu takdir melainkan dibalik takdir itu terdapat hikmah, baik diketahui ataupun tidak. Dengan demikian, hati seorang muslim harus senantiasa ridho dan pasrah kepada ketetapan Rabb-nya.
            Saat seseorang mengalami sakit, hendaknya ia menyadari bahwa Rasulullah yang merupakan manusia termulia sepanjang sejarah juga pernah mengalaminya. Bahkan dengan adanya sakit, banyak orang menyadari kekeliruannya selam ini sehingga sakit itu mengantarnya menuju pintu taubat. Justru ketika sakit itu tidak ada, malah membuat banyak orang sombong dan congkak. Lihatlah Fir’aun yang tidak pernah ALLAH timpakan ujian sakit sepanjang hidupnya, membuatnya sombong terlampau batas sampai-sampai berani menyatakan, “Akulah tuhan tertinggi kalian!”. (QS. An-nazi’at; 24).
            ALLAH berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya kami telah mengutuskan para Rasul kepada umat-umat sebelum kamu, kemudian kami siksa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan agar mereka memohon kepada ALLAH dengan tunduk merendahkan diri”. (QS. Al-an’am; 42).
            Tidak heran jika ada sebagian orang saat tertimpa musibah malah justru bergembira sebagimana bergembira ketika mendapat kelapangan. Rasulullah bersabda, “… dan sesungguhnya salah seorang mereka benar-benar merasa gembira karena mendapat cobaan, sebagaimana salah seorang dari mereka merasa senang karena memperoleh kelapangan”. (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)
Hiburan Untuk Orang Yang Tertimpa Musibah

            Agar sakit itu berbuah kebahagian, bukan keluh kesah, hendaknya seorang muslim mengetahui janji-janji ALLAH berikan, baik dalam AL-Quran maupun melalui lisan Rasul-NYA, Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
            ALLAH Ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah (Muhammad), Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah ALLAH tetapkan untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada ALLAH orang-orang beriman harus bertawakal”. (QS. At-Taubah; 51). Juga firmannya yang artinya, “Tioada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi ALLAH. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-NYA kepada mu. Dan ALLAH tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS. Al-Hadid; 22-23).
            Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang tertimpa gangguan berupa penyakit atau semacamnya, kecuali ALLAH akan menggugurkan bersama dengannya dosa-dosanya sebagaimana pohon yang menggugurkan dedaunnya”. (HR. Bukhari dan Muslim). “Bencana senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya, dan hartanya sampai ia berjumpa dengan ALLAH dalam keadaan tidak ada kesalahan pada dirinya”. (HR. At-Tirmidzi).
            “Sesungguhnya besarnya pahala itu berbanding lurus dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika ALLAH mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridha, baginya ridha-NYA, namun siapa yang murka , maka baginya kemurkaan-NYA”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Dua Jenis Penyakit

            Menurut anggapan mayoritas orang, yang dianggap penyakit hanyalah penyakit yang menimpa badan secara nyata seperti demam, batuk, flu, dan seterusnya. Namun tahukan anda, bahwa ada penyakit lain yang seharusnya lebih mendapatkan perhatian dan penanganan? Itulah penyakit hati. Syaikh Muhammad bin shalis al-utsaimin mengatakan dalam sebuah pertemuannya dengan para dokter, “Wahai saudara-saudaraku, penyakit itu ada dua, yaitu penyakit hati, inilah penyakit maknawi (abstrak), dan yang kedua adalah penyakit jisim, inilah penyakit hissi (kongkrit). Jenis pertama harus lebih utama diperhatikan dan ditangani karena ia mengakibatkan kebinasaan abadi”. (Isyadat lith thabibil muslim)
            Abdurrahman bin nashir as sa’di ketika menafsirkan firman ALLAH yang artinya, “Di dalam hati mereka terdapat penyakit”. Berkata, “Yang dimaksud dengan penyakit di sinni adalah penyakit keraguan, syubhat dan kemunafikan. Karena hati akan menghadapi dua penyakit yang akan mengeluarkannya dari kesehatan dan keseimbangannya, yaitu penyakit syubhat yang bathil dan penyakit syahwat yang membinasakan. Kekufuran, kemunafikan, keraguan dan kebid’ahan semuanya termasuk penyakit syubhat. Sedangkan menykai kekejian dan kemaksiatan serta melakukannya termasuk penyakit syahwat, sebagaimana firman ALLAH, “…sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya”. (QS. Al-Ahzab: 32) yaitu syahwat zina. Dan orang yang sehat adalah orang yang terselematkan dari kedua penyakit ini. Maka jadilah ia memperoleh keyakinan, keimanan  dan kesabaran dari segala maksiat”. (Taisirul Karimirrahman)
            Maka penyakit hati itu pangkalnya ada dua, yaitu syubhat dan syahwat. Dari kedua hal ini bercabang semua penyakit, dan amat sedikit orang yang mengetahuinya kecuali yang dirahmati Robba-NYA. Ibnu utsaimin berkata, “… penyakit-penyakit yang menyerang agama yang porosnya adalah syubhat dan syahwat”.
Setiap Penyakit Pasti Ada Obatnya
            Hal lain yang seyogyanya diketahui oleh seorang muslim adalah tidaklah ALLAH menciptakan suatu penyakit kecuali Dia juga menciptakan penawarnya. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah; “Tidaklah ALLAH menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya”. (HR. Bukhari)
            Imam Muslim “merekam” sebuah hadis dari Jabir bin Abdullah dari Rasulullah, bhwasanya beliau bersabda, “setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat untuk suatu penyakit, penyakit itu akan sembuh dengan seizing ALLAH Azza wa Jalla”.
Kesembuhan Itu Hanya Datang Dari ALLAH

            ALLAH berfirman menceritakan kekasih-NYA, Ibrahim alaihissalam yang artinya, “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku”. (QS. Asy Syu’ara; 80). Di surat Al-An’am ayat 17, “Dan jika ALLAH menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu”.
            Maka obat dan dokter hanyalah cara dan sebab keseembuhan, sedangkan kesembuhan hanya datang dari ALLAH. Karena Dia sendiri menyatakan demikian, “Dialah yang menciptakan segala sesuatu”. Semujarab apapun obat dan sesepesialis apapun dokter, namun jika ALLAH tidak menghendaki kesembuhan, kesembuhan itu juga tidak akan didapat. Bahkan jika meyakini bahwa kesembuhan itu datang dari selain-NYA, berarti ia telah keluar dari agama dan neraka sebagai tempat tinggalnya kelak jika tidak juga bertaubat. Dan fenomena ini kerap dijumpai di banyak kalangan, entah sadar atau tidak. Seperti ucapan sebagian orang, “Tolong sembuhkan saya, Dokter”. Meski kalimat ini amat pendek, namun akibatnya sangat fatal. Sepantasnya setiap muslim berhati-hati dalam setiap gerak-geriknya agar ia tidak menyesal kelak.
Mencari Sebab Kesembuhan yang Baik

            Banyak orang ketika tertimpa sakit lari kesana-kemari mencari kesembuhan. Setiap orang akan mencari dokter spesialis terhebat dinegerinya bahkan di seluruh dunia sekalipun demi mendapatkan kesembuhan. Berapa pun biayanya akan dibayarnya meski harus berhutang. Celakanya ada sebagian orang yang masih percaya kepada dukun si penipu yang maalah menjerumuskan ke dalam lobang kesyirikan yang mengeluarkan dari agama. Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah, beliau bersabda: “Barang siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lantas ia membenarkan perkataannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan pada Muhammada shallallahu alaihi wasallam”. (HR. Ahmad dan Al-Hakim).
            Tentu usaha untuk mendapatkan kesembuhan itu, selama usaha-usaha itu “sehat”, sangat diperlukan, karena ini merupakan bagian dari tawakal. Syaikh Shafiyyurrahma bin Abdullah Al Mubarakfuri berkata ketika menjelaskan hadis; “Setiap penyakit ada obatnya…”, “di dalamnya (hadis diatas) terdapat dorongan untuk berobat dan mengambil sebab, dan bahwasanya yang demikian itu termasuk menuntut takdir-NYA jika ia berkeyakinan ia akan sembuh dengan seizing-NYA. Yaitu seperti menolak rasa lapar dengan makan dan haus dengan minum”. (Minnatul Mun’im syarh shahih Muslim, 3; 457)
            Sesungguhnya ALLAH Ta’ala telah menyediakan AL-Quran sebagi obat yang lebih baik. Semua orang dapat memperolehnya jika ia yakin dengan sepenuhnya. Inilah yang disebut dengan “berobat dengan wahyu”. ALLAH lah yang telah menciptakan penyakit, maka tentu Dia lebih tahu apa penawar dan obatnya.
            Ibnu Qayyim berkata, “Siapa yang tidak dapat disembuhkan oleh Al-Quran, berarti ALLAH tidak memberikan kesembuhan kepadanya. Dan siapa yang tidak dicukupkan oleh Al-Quran, ALLAH tidak akan memberikan kecukupan kepadanya”. (Zaadul Ma’ad fi Hady khairi ibad).
            Dan masih banyak lagi obat-obat yang datang dari syariat seperti berobat dengan madu, jintas hitam, dan berbekam yang tentu tidak diragukan lagi kebenaran dan khasiatnya. Semoga shalawat beserta salam tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.At-Tauhid: Dan Jika Aku Sakit, Dia Yang Menyembuhkan

Wa shallallahu a;a Nabiyyina Muhammadin wa ala alihi wasallam. Walhamdulillahi rabbil alamin

No comments:

Post a Comment

Post a Comment